Oleh: sadarrukmana | Maret 21, 2009

TEKNOLOGI INFORMASI BANK SYARIAH

TEKNOLOGI INFORMASI BANK SYARIAH

Rebut Pasar dengan Teknologi Informasi

Transaksi berbasis teknologi informasi mengurangi potensi untuk suap, korupsi dan sejenisnya. Apalagi jika yang melakukan keunggulan TI (teknologi informasi) itu bak syariah yang mengharuskan setiap nasabah menyebutkan asal sumber dananya. Sistem ini amat sesuai untuk menciptakan indonesia yang bersih dan amanah di tengah isu korupsi yang merajalela.
Di Iran dan Korea Selatan, nilai pecahan mata uang terbesar adalah 10.000. Dan angka itu hampir setara dengan uang Rp 10.000 di Indonesia. Menurut beberapa sumber, ada beberapa alasan mengapa negara itu memiliki pecahan uang yang kecil saja.
Yang pertama adalah untuk kebersihan negara dalam hal ini dari suap, korupsi, dan sejenisnya. Uang suap biasanya dalam jumlah besar dan cenderung diserahkan dalam bentuk kas supaya tidak terlacak (contoh : kasus dugaan suap kepada anggota DPR dan Kejaksaan). Jika suap, atau korupsi dilakukan secara cash, bisa dibayangkan berapa karung uang yang harus dibawa karena pecahan erbesar adalah 10 ribuan. Padahal uang suap itu mencapai miliaran bahkan triliunan. Butuh satu mobil pick up dan puluhan karung untuk mengangkut uang suap. Tentu aksi ini mudah dicurigai.
Sementara jika dilakukan lewat transfer perbankan, akan mencolok. Terlebih lagi, di bank Syariah. Semua transaksi harus dijelaskan asal sumber dana yang bertarti nasabah harus bisa menyakinkan dan ada pernyataan bahwa uang itu bersumber dari transaksi yang halal.
Dalam hal ini, bank syariah berperan dalam menegakkan ekonomi umat yang amanah. Tentu dengan didukung perangkat teknonogi yang update. Sejauh ini disinyalir, nasabah enggan hijrah ke bank syariah lantaran sistem teknologi informasi yang tertinggal? mesin ATM yang minim jumlah serta transaksi yang terbatas.
Soal ini Abi S Panambang, Product Director Sigma Cipta Caraka, anak perusahaan Telkom yang menyediakan solusi IT untuk perbankan termasuk perbankan syariah, “Siapa bilang sistem informasi perbankan syariah tertinggal?” menurut dia banyak bank syariah yang dari sisi teknologi sudah unggul.
“Bank Permata itu, harus diakui bahwa fasilits yang ditawarkan itu sudah mencukupi kebutuhan konsumen,” kata Abi. Membayar telepon, listrik, kartu kredit, menggunakan kartu ATM, SMS, telepon dan internet banking pun bisa. Bank Syariah Mandiri (BSM) pun mengarah kesana. Sementara Bank Muamalat Indonesia (BMI), lewat kartu Shar-e juga menyediakan layanan meski harus menautkan diri dengan bank dan penyedia jasa lainnya.

Lebih Efisien

Ramzi A Zuhdi, Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (DPBS BI) sepakat bahwa penggunaan teknologi informasi mengurangi potensi terjadinya suap dan korupsi. Karena transaksi di perbankan terlacak di BI. “kita bisa mengarah menjadi negara yang bersih,”mkata dia.
Hanya saja, menurut Ramzi, karena luas wilayah Indonesia dan perbedaan latar belakang sosial nasabah, tetap saja peluang untuk bertransaksi tunai masih besar. “Orang belanja di pasar tradisional, beli kue, dan minum teh di pinggir jalan biasanya belinya tunai.” Bahwa saat ini bank syariah terkesan tertinggal dalam hal teknologi informasi, Abi mengatakan hanya karena kurang sosialisasi. “harusnya sudah bisa meng-grab nasabah,” kata dia.
Adiwarman Karim, Presiden Direktur Karim Business Consulting (KBC)mengatakan wajar jika terkesan bank syariah kurang atau tertinggal dalam pengembangan teknologi informasi. “biaya investasinya mahal,” kata Adiwarman. Namun, dengan bekerjasama dengan vendor lain dan sesama bank, masalah itu bisa diatasi.
Untuk lebih jauh, selain berpeluang menciptakan tata nilai yang ideal, bank syariah juga bisa turut serta menciptakan less cash society, kondisi dimana transaksi masyarakat lebih banyak nontunai. transasksi nontunai bisa meminimalisasi juga penggunaan uang kertas. Sehingga dana negara bisa lebih efisien dibanding harus mencetak ulang uang kertas sesuai kebutuhan. Yang pertama ada unsur keamanan yang lebih terjamin bagi nasabah di mana mereka tak harus khawatir dirampok di jalan karena menggunakan uang, dan juga meminimalisasi adanya penipuan terkait penggunaan uang palsu.
Karena, beberapa waktu belakangan memang banyak uang palsu beredar baikmdalam denominasi rupiah maupun dolar. mayarakat umum dirugikan dengan transaksi uang palsu ini. jadi inilah peran lain bank syariah dalam rangka menciptakan keadilan dan kejujuran di tengah masyarakat.

Less Cash Society dari Bank Syariah

Bank syariah bekerja sama dengan pihak lainuntuk menyediakan fasilitas teknologi informasi karena saat ini fokus industri keuangan syariah adalah ekspansi cabang dan pembiayaan.
Indonesia memang belum jadi Singapura di mana membayar bus dan tiket kereta pun sudah otomatisasi lewat kartu debet atau sejenisnya. Yang jelas, amat minim transaksi dengan uang tunai. Meski demikian, Indonesia sedang berusaha mengarah ke situ. Trennya sedang naik. Transaksi berbasis nontunai mulai menggeliat.
Berdasarkan hasil survei BI, sekitar 71 persen nasabah perbankan sudah menggunakan instrumen nontunai. Bahkan, sebanyak 64,5 persen diantaranya telah memiliki prefensi untuk mengunakan system e-money. Hal ini didukung banyaknya bank di Indonesia yang telah menggunakan fasilitas e-banking, ATM (Anjungan Tunai Mandiri), dan mobile banking. Hal ini pernah diungkapkan Deputi Gubernur BI Miranda Swaray Goeltom ketika memberikan sambutan dalam pembukaan The Asia Pacific Conference and Exhabition (Apconex) di Jakarta Convention Certer.
Lalu di mana peran bank syariah? mungkinkah industri perbankan yang sedang ditarget memenuhi pengsa pasar 5 persen tahun ini bisa menyesuaikan diri dengan keinginan untuk mewujudkan Less Cash Society sebagaimana di negara tetangga? ini pasti terkait dengan perkembangan sistem teknologi informasi yang dikembangkannya.
Direktur Bisnis Bank Muamalat Indonesia, U Saefudin Noor, less cash society merupakan masyarakat yang mengurangi penggunaan uang tunai dalam berbagai transaksi pembayaran. Mereka lebih sering mengunakan berbagai media pemnbayaran lain. Hal itu dilakukan melalui penggunaan kartu debit, transaksi keuangan berbasis telepon selular (mobile banking), transaksi berbasis elekronik (electronic banking), transaksi berbasis internet (internet banking) dan berbagai media pembayaran lain.
Menurut dia, berbagai transaksi nontunai saat ini telah menjadi hal yang cukup wajar. Bahkan, cara bertransaksi semacam itu akan menjadi bagian penting dalam perkembangan perbankan global yang tidak dapat dihindari. Berbagai transaksi itu bertujuan memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi. “karen itu, saya kira ini perlu diantisipasi bersama oleh dunia perbankan, usaha, masyarakat penguna, dan regulator agar kemudahan ditawarkan tetap memenuhi prinsip kehati-hatian, penerimaan, fleksibilitas, dan aman,” katanya.

Teknologi Bank Syariah Cukup Mutakhir

Menurut Saefudin, tak ada alasan bank syariah tertinggal dalam hal ini. Dalam berapa tahun terakhir, teknologi teknologi perbankan syariah berkembang cukup pesat. Bahkan, teknologi perbankan tanpa bunga itu cukup mutakhir dan mampu bersaing dengan perbankan konvensional. Karena itu, teknologi perbankan syariah bisa mendorong terwujudnya less cash society. “Sangat mungkin mendorong pengembangan less cash society karena teknologi perbankan syariah cukup mutakhir. Yang terpenting bagaimana ,model bisnis perbankannya sesuai dengan kaidah-kaidah syariah,” katanya.
Saefudin menegaskan jika tak bisa melakukan sendiri, bank bisa bekerjasama dengan perusahaan penyedia jasa TI. Karena itu sebetulnya semua teknologi ada dipasar. “Ini hanya soal prioritas dan penyesuaian dengan strategi bisnis masing-masing bank syariah. Jangan terjebak pada nice to have principles, seolah kalau punya dan pakai suatu teknologi sudah baik,”ujar Saefudin.
Menurut Syariah Division Head Bank Danamon, Achmad K. Permana, perbankan syariah saat ini telah menerapkan produk dan layanan untuk mendukung terwujudnya less cash society. Hal itu dengan mengembangkan akses layanan masyarakat dalam menggunakan kartu perbankan syariah untuk melakukan berbagai transaksi pembayaran.
Hal itu baik dari sisi penyediaan kartu debit melalui kartu ATM atau akrtu kredit syariah. “kita memang sudah menjadi bagian dari less cash society dan mendukungnya untuk terus brkembang,” katanya kepada Sharing, bulan lalu.
Achmad menyebutkan, menyediakan berbagai kemudahan pembayaran dengan menggunakan kartu bagi masyarakat penting dilakukan. Hal itu agar semakin banyak masyarakat berminat mengakses produk dan layanan perbankan syariah. Dengan demikian, perbankan syariah dapat terus berkembang dan membantu masyarakat.

Investasi Mahal

Presiden Direktur Karim Business Consulting (KBC), Adiwarman Karim menjelaskan saat ini dua bank yang cukup gencar mengembangkan investai IT adalah bank BCA dan bank DKI yang kini memiliki kartu jackcard yang bisa digunakan untuk membayar biaya transportasi bus TransJakarta.
“Jadi, setahu saya konsep less cash society yang sederhana adalah bagaimana satu kartu bisa digunakan untuk berbagai transaksi pembayaran. Misalnya untuk belanja, bayar tol, bayar parkir, dan bayar Busway (TransJakarta). ini seperti di negara maju,” ujarnya.
Menurut Adiwarman, pengembangan berbagai produk dan layanan untuk mendukung terciptanya less cash society menuntut pengembangan TI. Dan itu menuntut dana investasi yang maal, “Bagi bank syariah biayanya akan cukup tinggi,” ujar karim.
padahal, saat ini fokus pengembangan bisnis perbankan syariah adalah memperluas jaringan hingga ke pelosok daerah. Untuk melakukan strategi ini, berbagai bank syariah merogoh dan menghabiskan dana tidak sedikit. Sehingga hal itu membuat alokasi dana untuk pengembangan TI terkait realisasi less cash society menjadi cukup terbatas.
Mesaki demikian, lanjut Adiwarman, perbankan sayriah secara umum memang tengah menuju less cash society. Hal itu ditunjukkan dengan pengembangan kartu debit oleh berbagai bank syariah. Kartu debit ini memungkinkan masyarakat melakukan transaksi pembayaran di berbagai toko atau tempat tanpa harus repot membawa uang tunai.

Kemudahan Bertransaksi

Sementara itu, menurut Saefudin, sebagai sebuah inovasi berbasis TI, Shar-e memang memiliki kapasitas untuk menjadi alat transaksi dalam mendukung less cash society. Selain inovasi pada kemudahan menjadi nasabah bank, Shanr-e juga bisa menjadi instrumen tansaksional. “Shar-e itu seperti kendaraan atau ‘car’ yang bisa memuat banyak transaksi. Car disini bisa diartikan sebagai convetability, accesability, dan reability. Ini unggulan bagi industri perbankan syariah yang siap disharing kepada industri secara nasional maupun global,“ katanya yang menyebutkan Brand Shar-e telah didaftarkan di lebih dari 22 negara ntuk melindungi hak kekayaan intelektual temuan asli Indonesia ini.
Selain sebagai kartu kredit, Shar-e juga bisa dilengkapi layanan asuransi bagi nasabah. Hal itu dilakukan melalui produk pegembangan Shar-e Fullprotek. Produk ini merupakan hasil kerjasama pengembangan antara Bank Muamalat Indonesia dan Asuransi Takaful Keluarga (ATK). Dengan produk ini, nasabah bisa mengakses layanan asuransi jiwa syariah selain menggunakannya sebagai kartu debt syariah.
Menurut Drektur Utama ATK, Agus Edi Sumanto, Fullprotek merupakan produk asuransi syariah yang dilengkapi dengan investasi syariah. “Ya memang ini merupakan produk asuransi syariah dilengkapi simpanan investasi syariah,” katanya.
Situs resmi perusahaan menyebutkan, Takaful menawarkan tiga seri Fullprotek kepada masyarakat. Ketiganya adalah seri 175 seharga Rp 175 ribu, seri 275 seharga Rp 275 ribu, dan seri 750 seharga Rp 750 ribu. Terdapat setidaknya empat manfaat utama dengan memiliki produk ini. Salah satunya adalah klaim meninggal dunia karena kecelakaan sebesar Rp 25-100 juta. Selain itu, klaim cacat tetap karena kecelakaan dan klaim biaya perawatan dan pengobatan karena kecelakaan masing-masing sebesar Rp 5-20 juta dan Rp 1,25-5 juta. Sementara, klaim meninggal dunia biasa sebesar Rp 5-20 juta.
Sementara itu, berdasarkan hasil pengkajian tim Sharing berbagai bank syariah di Indonesia memang telah menerapkan berbagai teknologi produk dan layanan yang mendukung tercapainya less cash society. Hal itu dari penyediaan kartu ATM hingga berbagai kemudahan layana transaksi pembayaran. Sebagian besar dari emreka umumnya menggunakan jasa ATM Bersama dan BCA untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi pembayaran nontunai.

Sumber : Majalah Sharing Edisi 22 tahun III – Oktober 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: